Homee ^^

Rabu, 21 Oktober 2015

NAMANYA BENCANA ASAP

AA:
Ya elah Cuma karna asap dah gitu.. gimana ya kalo d kasih gempa bumi.. Tsunami.. Banjir.. Gunung Meletus.. Kelaparan.. Kaya d daerah lain.. plis deh.. :) :v

Palangkaraya, 16 Oktober 2015
Postingan di atas adalah ocehan salah seorang sosialita yang tidak tinggal di daerah SUMATERA dan KALIMANTAN.. sudah bisa ditebak karna dy gak tau gimana bahaya nya bencana Asap yang berlangsung selama berbulan-bulan. (Postingan Seperti ini bisa membuat SAKIT HATI Masyarakat yg mengalami Bencana ASAP lhoo, hati-hati dengan kata-kata)
akhir-akhir ini, memang banyak masyarakat di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan yang update untuk memposting beberapa foto mengenai kondisi kotanya yang diselimuti Asap. bahkan ada beberapa foto yang menunjukkan kondisi kota yang menjadi berwarna Kuning Coklat Pucat tak terlihat apapun. biasanya digunakan pula Hastag #MelawanAsap #MasihMelawanAsap dsbg.



Sebenarnya, semua bencana (namanya juga bencana pasti menimbulkan dampak negatif). Mari kita review, Gempa bumi dan Tsunami, berlangsung dalam hitungan menit bahkan detik, akibatnya menghancurkan dan menghanyutkan suatu daerah. Banjir, Gunung Meletus, berlangsung dalam hitungan hari dan akibatnya pun sangat banyak yang merugi.
Begitu pula Asap hasil kebakaran hutan. Asap ini bisa berlangsung berbulan-bulan dan dapat mengganggu sistem pernapasan terutama Paru-paru. Menggunakan masker dan memilih untuk berdiam dirumah adalah salah satu cara untuk mengurangi dampak dari Asap. Namun jika terlalu lama dan terlalu sering menghirupnya, maka dampaknya akan menimbulkan “ISPA” (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
Tercatat penderita ISPA di Kalteng selama dua pekan di bulan Oktober 2015 berkisar 3.788 orang yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Penderita ISPA tertinggi berada di Kota Palangka Raya yang mencapai 825 orang, Kabupaten Barito Selatan 662 orang, Kotawaringin Timur 646 orang, Kapuas 584 orang, Kotawaringin Barat 347 orang, Katingan 223 orang, Seruyan 140 orang dan Murung Raya 106. (http://www.antaranews.com/berita/523868/dua-pekan-penderita-diare-di-kalteng-mencapai-1329)
Palangkaraya, 16 Oktober 2015
Bukan berarti masyarakat yang tertimpa bencana asap lebay, berlebihan dan lain sebagainya saat memposting beberapa hal mengenai Asap, karena hal itulah yang kami rasakan saat bencana ini datang. Bahkan saya sendiri sering menyebutnya dengan Musim Asap (karena Asap ini akan selalu datang di musim kemarau dalam tiap tahun).
Di tahun 2015 ini, Asap yang ditimbulkan sangat parah. Menurut beberapa sumber, indeks ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara)  Palangka Raya sendiri pada tanggal 20 Oktober 2015  mencapai 3700 ยตgram/m3. Konsentrasi pertikulat PM10, 0-50 menunjukkan kuliatas udara baik, 50-150 kualitas udara sedang, 150-250 kualitas udara tidak sehat, 250-350 kualitas udara sangat tidak sehat. Nah, kebayangkan bahaya nya, 10 kali lipat diatas indeks bahaya.           
Sebagai sesama makhluk TUHAN yang mendiami BUMI ini, ada baiknya bahkan keharusan bagi kita untuk tidak merusak alam (dengan membakar hutan) karena hal ini berdampak bagi semua orang. Mari kita saling menjaga BUMI ini untuk kelangsungan akhluk Hidupnya. :)
Dari tulisan ini, saya mengajak seluruh lapisan masyarakat INDONESIA untuk saling membantu, bukan untuk saling meremehkan bencana yang ada. Bersama kita memikirkan solusi yang terbaik untuk menanggulangi bencana ini, bukan hanya sibuk menyalahkan pemerintah. Bersama kita BERDOA bukan SIBUK MENGHUJAT..:)

Palangkaraya, 16 Oktober 2015
(note: Saya menulis artikel ini di daerah rantauan saya, Malang. Saya memang tidak sedang berada di Kalimantan Tengah saat bencana ini terjadi, namun sebisa mungkin saya update segala berita mengenai bancana ini. Dalam Tulisan saya ini, hanya menggunakan Kalimatan Tengah sebagai dasar acuan, contoh kecil daerah dari bagian pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera yang menjadi “korban” bencana ASAP.  saya ingin menyumbangkan pemikiran saya yang kecil namun saya berharap pemikiran ini akan berdampak besar.)

Ariyana Isti Kusumayani.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar