AA:
Ya elah Cuma
karna asap dah gitu.. gimana ya kalo d kasih gempa bumi.. Tsunami.. Banjir..
Gunung Meletus.. Kelaparan.. Kaya d daerah lain.. plis deh.. :) :v
![]() |
| Palangkaraya, 16 Oktober 2015 |
akhir-akhir ini, memang banyak masyarakat di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan yang update untuk memposting beberapa foto mengenai kondisi kotanya yang diselimuti Asap. bahkan ada beberapa foto yang menunjukkan kondisi kota yang menjadi berwarna Kuning Coklat Pucat tak terlihat apapun. biasanya digunakan pula Hastag #MelawanAsap #MasihMelawanAsap dsbg.
Sebenarnya, semua bencana (namanya juga bencana
pasti menimbulkan dampak negatif). Mari kita review, Gempa bumi dan Tsunami, berlangsung
dalam hitungan menit bahkan detik, akibatnya menghancurkan dan menghanyutkan
suatu daerah. Banjir, Gunung Meletus, berlangsung dalam hitungan hari dan
akibatnya pun sangat banyak yang merugi.
Begitu pula Asap hasil kebakaran hutan. Asap
ini bisa berlangsung berbulan-bulan dan dapat mengganggu sistem pernapasan
terutama Paru-paru. Menggunakan masker dan memilih untuk berdiam dirumah adalah
salah satu cara untuk mengurangi dampak dari Asap. Namun jika terlalu lama dan
terlalu sering menghirupnya, maka dampaknya akan menimbulkan “ISPA” (Infeksi
Saluran Pernapasan Akut).
Tercatat penderita ISPA di Kalteng
selama dua pekan di bulan Oktober 2015 berkisar 3.788 orang yang tersebar di
seluruh kabupaten/kota. Penderita
ISPA tertinggi berada di Kota Palangka Raya yang mencapai 825 orang, Kabupaten
Barito Selatan 662 orang, Kotawaringin Timur 646 orang, Kapuas 584 orang,
Kotawaringin Barat 347 orang, Katingan 223 orang, Seruyan 140 orang dan Murung
Raya 106. (http://www.antaranews.com/berita/523868/dua-pekan-penderita-diare-di-kalteng-mencapai-1329)
![]() |
| Palangkaraya, 16 Oktober 2015 |
Di tahun 2015 ini, Asap yang ditimbulkan sangat
parah. Menurut beberapa sumber, indeks ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) Palangka Raya sendiri pada tanggal 20 Oktober
2015 mencapai 3700 ยตgram/m3. Konsentrasi pertikulat
PM10, 0-50 menunjukkan kuliatas udara baik, 50-150 kualitas udara sedang,
150-250 kualitas udara tidak sehat, 250-350 kualitas udara sangat tidak sehat. Nah,
kebayangkan bahaya nya, 10 kali lipat diatas indeks bahaya.
Sebagai sesama makhluk TUHAN yang mendiami BUMI
ini, ada baiknya bahkan keharusan bagi kita untuk tidak merusak alam (dengan
membakar hutan) karena hal ini berdampak bagi semua orang. Mari kita saling
menjaga BUMI ini untuk kelangsungan akhluk Hidupnya. :)
Dari tulisan ini, saya mengajak seluruh lapisan
masyarakat INDONESIA untuk saling membantu, bukan untuk saling meremehkan
bencana yang ada. Bersama kita memikirkan solusi yang terbaik untuk
menanggulangi bencana ini, bukan hanya sibuk menyalahkan pemerintah. Bersama kita
BERDOA bukan SIBUK MENGHUJAT..:)
![]() |
| Palangkaraya, 16 Oktober 2015 |
Ariyana
Isti Kusumayani.


